Sejak beberapa tahun yang lalu, di kampus ini, khususnya di dept IT (puskom) memang sudah terbiasa dengan penggunaan aplikasi opensource, pelan2 namun pasti kami melaksanakan migrasi yg dilakukan secara bertahap pada PC di ruangan (dept) lain serta lab praktikum komputer. Untuk migrasi PC di dept lain so far so good, tidak ada kendala yang berarti, aktifitas perkantoran/administrasi bisa dilakukan dengan lancar menggunakan aplikasi opensource.
Permasalahan kemudian timbul pada PC yang ada di ruangan lab, proses migrasi tidak bisa 100% karena masih ada beberapa aplikasi yang belum ada penggantinya (versi opensource) sehingga dari 4 lab yang ada kami sisakan 1 lab yang tidak ikut dimigrasikan (kebetulan kami masih memiliki license-nya).
Selang 1 tahunan berjalan , Pimpinan menyatakan secara resmi untuk tidak memperpanjang license Windows OS. Seiring dengan itu, penggunaan proprietary software juga dilarang, software tersebut antara lain: MS Office, SPSS, MYOB. Nah, walaupun kami sudah menemukan aplikasi pengganti, seperti OpenOffice menggantikan MS Office, GnuCash menggantikan MYOB, serta GRetl menggantikan SPSS namun ternyata tidak juga lepas dari permasalahan.
Permasalahan yang pertama, Dosen/Intruktur memerlukan waktu untuk mempelajari/beradaptasi dengan aplikasi pengganti tersebut, dan saya melihat ada beberapa diantara mereka sepertinya menunjukkan resistensi dengan berbagai macam alasan terhadap pergantian ini.
Yang kedua, dan ini mungkin permasalahan yang paling krusial, saat ini di “pasaran” masih Microsoft Oriented, masih banyak menggunakan aplikasi2 Windows based (banyak yang bajakan tentunya), nah ketika Mahasiswa lulus dan kemudian mereka melamar pekerjaan, ketika di test mereka dihadapkan dengan aplikasi yang tidak pernah mereka pelajari di kampus, dan hal ini bisa merugikan mereka.
Apakah perusahaan tempat mereka melamar kerja akan menerima alasan “Maaf pak saya waktu di kampus belajar Linux dan Openoffice” dan walaupun ditambah dengan bukti “saya mahir menggunakan software itu pak, nilai saya bagus” … ? nah loh!… bisa saja perusahaan malah bilang “Linux itu apa? openoffice itu apa?.. saya butuh karyawan yg bisa mengoperasikan windows vista dan ms office 2007…. ” … errrr …. Padahal salah satu keinginan/tujuan kampus ini adalah menghasilkan lulusan yang siap kerja, tapi bagaimana bisa kalau pada saat ujian lowongan kerja di test aplikasi perkantoran mereka gagal?
Lalu bagaimana solusinya ? kembali menggunakan proprietary software ?
Saya pribadi sampai sekarang tetap mendukung kampanye penggunaan opensource ”IGOS Indonesia Go OpenSource“, tapi kalau melihat hal seperti ini saya juga bingung karena supply and demand nya gak ketemu.
Bagaimana dengan penggunaan opensource di kampus lain?
DIarsipkan di bawah: IT | Ditandai: aplikasi, education, freesoftware, freeware, gnucash, gretl, igos, linux, lisence, microsoft, myob, Office, openoffice, OpenSource, pendidikan, proprietary, school, software, spss, windows





Jangan cuma satu-satu dong
idealnya, kampus itu adalah tempat yang membuka wawasan.
Ajarkan saja Windows, Linux, Solaris, FreeBSD disitu.
Kampus saya dulu mengajarkan saya coding C di DOS, simulasi prosesor di Windows, dan juga oprek2 syscalls di Solaris.
Ini semua sangat membantu saya menjadi mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang berbeda dan berubah-ubah. Tidak saklek / mentok di satu platform saja.
Termasuk akhirnya saya jadi lebih paham menggunakan Linux, adalah karena kuliah Solaris tersebut
(karena itu juga saya lebih fasih menggunakan vi, dan bukannya pico, hehehehe)
Dari segi biaya saya kira no problem. Bilang saja ke Microsoft bahwa kita sedang tertarik dengan Open Source. Nah pasti kemudian biaya Campus Licensing Agreement nya langsung drop, hehe.
Sun sudah jelas sejak dahulu kala selalu amat suportif terhadap institusi pendidikan. Kawan kita, Alex Budiyanto, mungkin bisa membantu sampeyan disini.
Dosen tidak mau berubah? Mungkin cara pendekatannya perlu diubah sedikit
misal: “pak, kalau kampus pakai Linux, bisa mulai dapat proyek2 dari Ristek lho”, dst.
Lalu buat Pusat Riset Komputasi di Univ sampeyan, sebagai entitas yang bisa bekerjasama / berbisnis dengan pihak luar.
Bisa jadi setelah itu, dosen-dosennya malah kemudian pada rebutan belajar Linux
Ya, jadi aktivis memang berarti kita musti pintar-pintar berstrategi. Capek di pikiran sih, but it’s worth it
ya emang sebelum ‘beraksi’ harus susun ’strategi’ mateng dl.. gak grusa grusu..akhire yo jadi gak ‘karu2′ [maksute gak karu-karuan..:D..]
Ooo ini kampus ekonomi tho !
Hehehe… kirain jurusan komputer.
SPSS itu ada versi Linuxnya lho. Sejak versi 17 kalau tidak salah.
Tapi ya sama saja seperti versi Windowsnya – harganya US$ 1500 !
Untuk aplikasi akuntansi di Windows, ada seperti Turbocash yang gratis.
Mengenai Pusat Bisnis, di beberapa kampus, seperti beberapa jurusan di Andalas, pendukung utamanya justru dosen-dosen yang tua.
Mengenai beban kerja, ya, saya kira kita semua senasib. Ada lebih banyak pekerjaan daripada waktu yang ada. Untuk itu perlu ada implementasi Project Management. Dengan demikian, maka bisa dilakukan prioritas, pemilah2an pekerjaan, efisiensi, dst.
Intinya saya kira adalah tekad. Kalau pimpinan sudah bertekad dengan kuat, maka jalan akan bisa ditemukan.
Selamat bekerja
Wah, berat ini… *emang pernah jadi “ringan”? Real world selalu “berat”*
Mmh…
1. Tentang kampus IT dan kampus Ekonomi;
benar, wajar banget lah. Namanya juga kampus IT, jadi lulusannya diharapkan adaptif trhadap perkembangan IT. Dosennya apalagi. Nah, kampus Ekonomi juga fokusnya ke bisnis. Lulusannya diharapkan pinter bisnis, kalo bisa sekalian pinter mengoperasikan alat/sumberdaya terkait; tapi intinya teuteup: bisnis. Dan memang tampaknya pasar orientasinya masih ke produk Microsoft, atau malah ke produk proprietary? Ugh… Mengubah ini seperti menyadarkan generasi mbah kita tentang pentingnya nge-blog…
Bukan tidak mungkin, tapi buerat dan yang jelas: lama.
2. Tentang resistensi dosen;
sekali lagi wajar mas. Di kampus saya saja nih, yg kampus IT tertua di Djogja (katanya sih), resistensi ini selaluuuu aja ada. Di kalangan dosen maupun di kalangan mahasiswa; di kalangan karyawan juga. Komplit dah. Akarnya tu sering aneh (menurut saya sih). Yakni, sebagian besar mereka yg resisten itu pinginnya teuteup make Windows-based, gak peduli itu bajakan atau tidak. Yang jelas mereka udah bertahun-tahun BIASA memakai itu, dan mereka tidak mau diganggu dengan keharusan untuk belajar lagi. Intinya: anti perubahan. Tentu saja, untuk dosen sih lisensi gak jadi masalah, toh yang dipakai di kampus biayanya ditanggung kampus. Kampus juga, mikirnya “khan ada perjanjian ama M$, ada potongan harga krn kita institusi akademik…” dst. Soal mahasiswa gimana, wah mana ada yg peduli. Dosen pun untuk PC/laptop pribadi paling bajakan juga. Rasanya seperti bunyi ungkapan ini: “…tidak mungkin menyenangkan semua orang”. Yah, selalu saja ada yang resisten… Jangankan di kalangan generasi tua; di kalangan generasi [dosen/mahasiswa] muda saja ada koq…
Wah, maaf. Ini mah posting yg disamarkan sebagai koment…
Kampus saya -> STMIK AKaKom Djogjakarta…
[...] Kisah yang ketiga adalah soal dilema antara aplikasi proprietary dengan aplikasi gratis. Well, memang di sumbernya diberi judul “gratis”. Kisah klasik bagaimana pun juga. Di kampus saya ini dulu rahasia umum (yang berarti: “bukan rahasia lagi”). Entahlah sekarang. Sebenarnya simple kali ya. Si A bikin produk dan minta Anda: jangan mengutak-atik dalemannya; pokoknya Anda tinggal pakai aja (dan bayar dulu tentunya! Itu barang dijual, jadi jangan “mencuri”). Sebaliknya, si B bikin produk dan terserah pada Anda: mau make’ ato nggak, mau pake’ tapi gak mau bayar silahkan, mo pake’ dan mau (atau “maksa”?) bayar ya monggo juga. Singkatnya: terserah elu coy! Tentu saja, Anda boleh-boleh saja mengutak-atik dalemannya (jika Anda bisa, jelas). [...]
Disini masih pake bajakan kayake mas …