Tidak perlu menjadi pakar IT

Seringkali saya ketika saya mengutarakan sesuatu saya mendapat komentar “maaf, saya bukan orang IT” “saya gaptek gak kayak kamu yang pinter IT” .. sebegitu cepatnya mereka berkata seperti itu kepada saya, saya heran padahal apa yang saya utarakan itu sebetulnya tidak perlu membutuhkan pengetahuan IT tingkat tinggi, dan tidak perlu seorang pakar.

Contoh yang paling sering terjadi ketika saya mengomentari mereka yang menyebarkan hoax, setelah saya ingatkan, saya beri klarifikasi, teguran halus (kalo lagi sebel biasanya rada-rada kasar hehehe.. ) dan harapan agar mereka tidak lagi terjebak hoax justru saya dianggap sombong, saya dianggap terlalu ngerecokin urusan orang lain. Tanggapan yang selalu sama juga lainnya yaitu “kalau tidak suka ya sudah kan tinggal delete, atau hiraukan saja“. Kadang saya merasa capek untuk menjelaskan bahwa ini bukan masalah suka atau tidak suka.

Apakah mereka tidak menyadari bahwa berita hoax yang mereka sebarkan itu bisa menghasut/menyesatkan orang lain? bahkan memberi rasa takut bagi orang lain. Contoh saja kasus yang sangat menyedihkan yaitu hoax gempa jogja beberapa tahun lalu yang meresahkan banyak orang, ini kalau kita lihat dari segi psikologis, belum lagi dari segi teknis.

contoh sedehana saja deh.. kalau saya bilang “eh keputusan pemerintah, puasa tahun ini cuma 29 hari“, lalu banyak yang percaya sama saya lantas hari ke 30 mereka tidak puasa, tapi ketika mereka mengetahui ternyata informasi saya ini salah, sudah pasti mereka akan marah2 sama saya dan bisa saja saya di cap sebagai pembohong lah, tidak jujur lah.. “ah sialan si sandy! harusnya hari ini kita masih puasa kan!.. ” apakah mau kita diperlakukan seperti itu? apakah kita mau dan berani bertanggungjawab?

apa perlu analisa dari seorang pakar IT? jelas gak perlu, tinggal baca koran, nonton tv ato search di google!!  .. or just use your common sense lah.. apalagi untuk kasus seperti ini. Saya yakin tidak sulit memanfaatkan google sebagai alat untuk mencari informasi, saya yakin mereka yang terbiasa dengan internet dalam ukuran awam pun sudah bisa menggunakan google dan tidak perlu seorang pakar IT untuk menentukan keabsahan sebuah berita.

Beberapa hari belakangan ini sempat posting saya menanggapi hoax di salah satu milis menjadi ramai, ada yang mendukung saya, ada juga yang menganggap saya sombong dan seperti yang saya tulis di atas, sampai sampai salah satu member yang saya bicarakan tersebut ngambeg hihihhi…

Jujur saja saya sudah lama memperhatikan member tersebut karena dia sering memposting hoax dan kabar tidak jelas asal usulnya. Seingat saya juga pernah saya japri dia dan memberikan tips bagaimana memilah-milah informasi, mana yang hoax dan mana yang benar, tapi sepertinya dia keasyikan posting/forward segala macam informasi yang dia peroleh tidak ada usaha untuk memilahnya/mengklarifikasi terlebih dulu.

Disini saya juga ingin menjelaskan bahwa secara pribadi saya tidak bermasalah dan tidak ingin ada masalah dengan mereka-mereka yang telah menyebarkan/menjadi korban hoax. Mohon maaf jika dalam sikap/perkataan/tulisan saya yang bermaksud mengingatkan terdapat kata-kata yang kurang berkenan. Niat saya kan baik to πŸ™‚ mencegah mereka menjadi korban hoax dan juga mencegah mereka membuat orang lain menjadi korban hoax karena perbuatan mereka.

Powered by ScribeFire.

32 responses to “Tidak perlu menjadi pakar IT

  1. Yes, gitu donk berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Walaupun nanti ada yang tidak suka dengan kita cuek aja lagi. Lagipula tujuan awal anda kan baik jadi kalo mereka (yang suka posting hoax) gak sadar2 ya sudahlah kita teror aja terus hingga sadar (huehuehuehue).

    Suka

  2. aku td sore baru aja negur kakak klsku gara2 nyebarin hoax telor henpon
    kukasih tau hoax:
    dia : kan aku gak tau
    aku : lho, kan bs dicek sblm di fwd

    dia : aku kan gak tau hoax
    aku : peras aan aku dah sering ngomong ttg apa itu hoax deh

    dia : kan aku cuman fwd, ga salah donk
    aku : salah besar
    1. nyesatin orang
    2. buang2 benwit percuma

    *bukan pakar*

    Suka

  3. Sedihnya, mereka itu kebanyakan berpendidikan tinggi lho… *sering liat yang masih nyisain signature di buntut forwardannya, dari perbankan, lembaga hukum, bahkan vendor IT sendiri* Apa di kuliahan dulu mereka gak pernah diajarin berpikir kritis ya? 😦

    Suka

  4. SETUJU!!!
    ga perlu menjadi pakar IT untuk mengeluarkan sebuah fatwa ataupun menukil hadist tentang hoax!!!

    sampaikanlah kefada umat walopun satu ayat!!!

    Suka

  5. iya sy sebagai korban hoax dari temen sendiri dan akhirnya dikembalika ke informasi yg lurus oleh mas sandi, mengucapkan terima kasih

    btw, soal mars kelihatan segede gundu saat tgl…hmm lupa

    Suka

  6. wah, kalau saya hari ini sudah memperingati 3 orang dalam hal spam. ada yang ngeprint isi spam, alasannya buat dibaca di rumah.o maigat spam yang dikiranya hadiah besar dari amerika akan membuat nya kaya, lalu di print. kalau ada 10 orang kayak gitu di kantor tiap hari bisa tekor dah kantor, habis tinta dan kertas percuma doang.

    Suka

  7. btw, saya pernah ditanya sama orang (awam) tentang spam. apa itu spam tanya dia. jujur saja saya kesulitan untuk menjawabnya. tapi saya balik bertanya kepada dirinya, “jika bapak dikirimin surat yang tak bapak butuhkan bagaimana? okey jika surat yang dikirim cuma satu, bagaimana jika ratusan? dan surat surat itu adalah surat surat penawaran? bapak itu menjawab, “wah bisa bsia surat (penting) saya akan tertimbun di tumpukan surat-surat yang tak penting itu” dan mungkin akan memenuhi mailbox saya saja” nah itu jawabannya mengapa spam dilarang πŸ™‚ dia langsung manggut manggut.

    Suka

  8. sandy

    yah namanya juga manusia.
    bagaimanapun mereka yang orang IT terkadang memiliki
    pikiran bukan seperti orang IT.

    dan malahan orang yang bukan IT suka menyebut diri mereka
    IT…… terserah bagaimana mereka menyikapinya..

    dan kita yang orang IT lebih baik bungkam saja dari pada semakin di puji-puji..

    biasanya mereka yang terlalu menganggap rendah diri mereka sendiri, kita sebagai teman lebih baik mendorong mereka saja kalau mau belajar.

    * waduh ngetik apa gw barusan *

    btw IT bukan yah saia πŸ˜€

    Suka

  9. kekek….

    lagi males blogging neh…. soalnya!

    di hadapkan tugas kantor yang tak pernah habis…
    tapi yah cukup lah untuk gajinya! πŸ˜€

    Suka

  10. Tos aja deh, mas. Saya kadung dikenal cukup galak di beberapa milis, tergantung milis alumni sendiri, gara-gara menanggapi dan menegur penyebar hoax.
    Nasib :p Apapun lah, demi tidak diteruskannya hoax.

    Suka

  11. Ping-balik: the Days After·

  12. tuku jare, dodol jare, bathi jare.<—hoax menurut bahasa jawa gitu x ya.
    terjemahan bebasnya dalam bahasa indonesia
    beli “katanya”, jual “katanya”, dapet untung “katanya”.

    beberapa kali nerima hoax, n saat dikonfirmasi ke orang yang nyebarin dia nulis begini :
    “cuman forward.”atawa “katanya si anu di milis/blog/website/fs una ” dan memberikan alasan-2an yang bisa dibaca juga di milis/blog/website/fs una tersebut. pake ngeyel lagi kasih alasannya. Dan akhirnya. kubalaskanlah dengan kata: Sakarepmu lah. πŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s