Turun Gunung, Alun Alun Kota Batu #MalangUklam

Berhubung dari hari sabtu – minggu kemarin posisi saya berada di rumah saudara, di Kota Batu (ya… masih masuk Malang Raya lah) maka kegiatan berpetualang #MalangUklam bergeser ke seputaran Kota Batu. Rumah saudara berada di Desa Djunggo, kurang lebih 8KM dari pusat Kota Batu.

malanguklam batu

Minggu pagi sekitar jam 6 kurang, dengan hawa yang masih cukup dingin perjalanan #MalangUklam dimulai, diiringi sinar matahari yang bersinar cukup cerah menaungi kota Batu… tsaah!

malanguklam batu

Suka merasa bakal ngglundhung di jalanan turunan yang lumayan terjal, jadi sedikit perlu waspada. Pemandangan lembah pegunungan cukup menjaga semangat uklam-uklam kali ini. Dengan sesekali berinteraksi dengan penduduk setempat yang kebanyakan para buruh tani yang sudah mulai beraktifitas.

malanguklam batu

Suasana jalanan pagi yang masih lengang membuat nyaman berjalan kaki. Terlihat patokan penunjuk KM tertanam di setiap beberapa kilometer membuat saya selalu ter-update dengan “kondisi terkini”, ya dari patokan itu saya dapat mengetahui berapa KM lagi menuju pusat kota Batu, atau sudah berapa KM saya berjalan.

malanguklam batu

Sekitar jam 7 lebih akhirnya saya berhasil sampai di alun-alun kota Batu. Toko masih pada tutup, tapi keramaian di seputaran alun-alun sudah mulai terlihat. Maklum, sama dengan kota Malang, di Batu inipun juga ada CFD (Car Free Day), yang mengambil lokasi di seputaran alun-alun. Pagi itu banyak sekali masyarakat kota Batu yang berolahraga atau cuma sekedar berjalan-jalan di sekitaran alun-alun, bahkan ada yang ber-gangnam style😀

Suasana begitu nyaman, tidak sampai terlihat macet dan berdesak-desakan seperti di CFD / Pasar Tugu di Malang, membuat saya iri membandingkan dengan keadaan di alun-alun kota Malang yang cuma begitu begitu saja, juga penuh sesaknya Pasar Tugu.

malanguklam batu

Kecil tapi rapih, bersih dan lengkap fasilitasnya. Ada playground buat anak kecil, ada banyak kolam air mancurnya, dengan beberapa bangunan berbentuk buah apel yang imut-imut, dan yang jadi primadona tentu saja Ferris Wheel-nya. Nggak pake malu, langsung beli tiket seharga Rp 3.000/orang, naik ferris wheel … sendirian! ae ae ae! dan ini kedua kalinya saya naik wahana semacam ini sejak … SD!!! *maafkan aku masa kecilku

malanguklam batu

Puas keliling alun-alun yang berukuran mini ini membuat saya lapar. Bingung karena nggak punya referensi warung apa yang enak yang ada disekitaran alun-alun, akhirnya memutuskan untuk memilih warung yang tempatnya asik. Ketemu deh ada warung yang punya view bagus, dari lantai 2, sambil menikmati soto ayam dan segelas kopi susu saya bisa melihat alun-alun kota batu.

Kebetulan di warung tersebut tidak menyediakan pecel, dan sarapan tanpa pecel itu bukanlah sarapan, juga karena masih lapar, maka sehabis makan soto ayam, mata saya mulai menerawang ke area alun-alun mencari warung pecel. Dapat warung di dekat stadion yang menjual nasi pecel Rp 5.000/porsi, ya cukup lumayan lah buat sarapan.

Selesai sarapan session 2, melanjutkan berjalan kaki ke Masjid An-Noor, baru beberapa meter dari warung pecel saya melihat ada depot susu yang cukup ramai. Ya, kota Batu juga dikenal sebagai daerah produksi susu dan olahannya. Penasaran, saya langsung masuk ke depot ini. Melihat beberapa jenis olahan susu, jadi bikin ngiler, dan akhirnya saya beli 1 botol yoghurt jelly rasa mocca, Rp 8.000/botol kecil. Ya namanya juga yoghurt, rasanya masem-masem bikin mesem-mesem🙂

malanguklam batu

Lanjut ke Masjid An-Noor, ini seperti Masjid Jami’ nya kota Batu. Maunya sih numpang pipis, tapi apa daya toiletnya masih dikunci, ya elah😦

Ada satu hal yang menarik di masjid ini, di halaman depan disediakan fasilitas air PDAM yang bisa langsung diminum gratis! wow, langsung deh saya re-fill botol aqua yang sudah setengah habis🙂

Setelah merasa tersegarkan lagi jiwa dan raganya, jasmani dan rohaninya, kemudian saya putuskan saatnya untuk pulang, waktu sudah menunjukan pukul 9 lebih. Dalam perjalanan pulang, beberapa puluh meter dari Masjid saya berjumpa dengan sebuah klenteng kecil yang terletak di pojok perempatan, Klenteng Kwan Im Tong. Saya coba masuk untuk lihat-lihat dan sedikit bertanya-tanya kepada penjaga klenteng, sayangnya penjaga klentengnya masih baru (katanya) jadi tidak terlalu banyak informasi tentang bangunan peribadatan umat Buddha/Konghucu ini yang bisa saya dapat. Ya sudah lah, saya puaskan saja dengan foto-foto.

malanguklam batu

Selesai dari klenteng saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah saudara, baru sekitar 1 KM kemudian dengan terpaksa nyegat angkot karena cuaca sudah mulai panas dan kebelet pipis😀

angkot, terakhir kali naik angkot dua tahun lalu

… demikian

sejarah #MalangUklam | photo pegunungan | photo masjid | photo ferris wheel

13 responses to “Turun Gunung, Alun Alun Kota Batu #MalangUklam

  1. Aku pernah sih kalo cuma lewat di batu. Tapi emang suasana kotanya emang nice banget sih. Kapan-kapan harus main-main ke sana.

    Pemandangan gunungnya wow banget yaaa *koprol*

    Suka

  2. wuih keren photo2nya, suasan pedesaan yang masih alami, udara yang segar, terik mentari yang tidak terlalu panas…
    beda banget dengan di jakarta, thanks udah berbagi keindahan panorama desanya mas…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s