Sudah ada BPJS, masih perlu Asuransi Swasta? Menyambut Amanah (part 3)

BPJS dan Asuransi Swasta

Selama masa kehamilan sampai persalinan bahkan semasa tumbuh kembang anak pun butuh biaya … yaiyalah ya🙂 tapi dengan metode metode tertentu kita bisa mengurangi atau meminimalisir jumlah biaya yang dikeluarkan.

Beberapa tahun lalu banyak orang tidak terbiasa dengan skema asuransi, dengan berbagai macam alasan, yang biaya preminya mahal lah, nggak percaya sama perusahaan asuransinya lah, proses klaim nya ribet, fasilitas kesehatannya terbatas lah…

Sekarang, sudah ratusan juta rakyat Indonesia mendapat jaminan kesehatan dengan program “asuransi” dari pemerintah bernama BPJS.

Fasilitas BPJS tidak selalu kami gunakan, ada kalanya lebih “nyaman” tidak pakai BPJS. Pada setiap kontrol kehamilan, selalu kami pilih kategori umum, tidak BPJS. Kenapa? pertama, biaya kontrol masih kami anggap sangat terjangkau, kedua, efisiensi waktu, karena jika pakai BPJS, setiap kontrol per bulan harus menggunakan surat rujukan dari FASKES 1. Surat rujukan untuk menggunakan BPJS memiliki masa waktu 1 bulan. Jadi sangat amat membuang waktu, antri urus surat rujukan, dan antri kontrol kandungan, dua kali antri, padahal sekali antri bisa berjam-jam, capek ngantrinya dong ya… Jadi keluar duit sekian rupiah lebih worth it daripada buang waktu antri berjam-jam bolak-balik.

Nah … beda saat istri mengalami pendarahan dan harus rawat inap, karena tergolong urgent, tidak perlu surat rujukan. Dan juga karena rawat inap, hampir pasti biayanya cukup besar pikir saya, maka saya urus daftar perawatannya pakai BPJS. Cukup bermodalkan fotokopi KTP, KK, Kartu BPJS, kelar. Pihak Rumah Sakit pun tidak berbelit-belit, dan tidak ada diskriminasi perlakuan antara pengguna BPJS dan bukan, semua diperlakukan sama. Sayangnya tidak semua RS seperti ini.

Waktu itu BPJS istri belum masuk tanggungan BPJS Perusahaan saya (suami), masih bersifat mandiri, dan sudah telat bayar iuran 2 bulan, khawatir tidak bisa dipakai, langsung saja saya lunasi tanggungan iuran itu. Sret… tinggal jalan kaki ke minimarket sebelah RS, sebutkan nomor BPJS nya, bayar, selesai, dan BPJS istri bisa digunakan.

Istri ditempatkan di ruang rawat kelas III, sayangnya tidak bisa upgrade ke kelas II atau kelas I. Menurut pihak RS, kalau BPJS kelas III tidak bisa upgrade, tapi kalau BPJS nya kelas II bisa. Sayangnya, punya istri kelas III. Ya sudahlah terima nasib… ya untungnya tidak jelek-jelek amat sih bangsal rawat inapnya

kamar rawat inap kelas III RS Lavalette

kamar rawat inap kelas III RS Lavalette

Jadi berapa biaya yang dikeluarkan selama perawatan? … NOL, Alhamdulillah, rawat inap 3 hari 2 malam + obat semua ditanggung BPJS.

Oia, awalnya kami ingin pakai asuransi swasta dari kantor istri, tapi sayang, kategori layanan kesehatannya (maternity care) tidak termasuk yang ditanggung.

Berikutnya, waktu persalinan. Di cerita sebelumnya saya menjelaskan kenapa pilih RSIA Melati Husada, salah satunya karena bisa double claim, BPJS + Asuransi Swasta. Untuk BPJS nya, karena sudah masuk BPJS Perusahaan, sudah jadi tanggungan kantor saya, maka biaya yang ditanggung Rp 4.2juta untuk cesar, kalau persalinan normal Rp 2.5 – 2.8jt (saya lupa persisnya). Jumlah itu ditambah lagi dengan jumlah tanggungan dari asuransi swasta milik istri …

sudah? belum!

setelah proses persalinan, dan sudah mendapat Surat Keterangan Lahir, langsung urus BPJS Anak, cuma bawa fotokopi Surat Keterangan Lahir, KTP, KK, Buku Nikah, dan BPJS saya dan istri. Waktu itu pengurusan BPJS yang di jalan Cisadane. Sepertinya yang di situ khusus untuk pengurusan BPJS Perusahaan, jadi tidak ramai, hampir jarang ada antrian, sehingga prosesnya cepat, tidak sampai 15 menit sudah jadi BPJS Anak. BPJS ini bersifat sementara sampai Akte Lahir dan KK baru sudah jadi, dan hanya berlaku 1 bulan.

BPJS Anak

Nah, BPJS Anak ini bisa kita pakai untuk “menambal” biaya persalinannya, lumayan, kalau saya hitung-hitung hampir Rp 1jt biaya yang ditanggungnya. Jadi ujung-ujungnya kami pakai BPJS istri + BPJS anak + asuransi istri, dan hasil akhirnya jumlah total biaya persalinan yang harus kami keluarkan … NOL! itu kami daftar pelayanan Kelas I loh… *sujud syukur*

Dengan pengalaman ini, kalau dulu saya sempat bimbang, apakah saya hentikan saja asuransi swasta yang saya miliki? karena sudah ada BPJS … no! Asuransi swasta masih perlu, karena tidak selalu semua biaya ditanggung 100% oleh BPJS, apalagi kalau bisa double claim… syukur deh.

So… sebelum fix memilih tempat persalinan, banyak hal yang harus diperhitungkan, supaya nggak nyesel. Selain itu, pesan moral dari cerita episode ini, bahwa BPJS adalah program pemerintah yang sangat sangat sangat membantu, jikapun ada penggunaan BPJS yang bermasalah, biasanya, pada umumnya, kebanyakan, mayoritas, hampir semua … yang bobrok itu FASKES/RS nya! yang urusannya ribet lah, diskriminasi lah, lambat lah

hal ini sempat saya bahas bareng netizen di twitter

Anda sudah daftar BPJS?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s